Kehidupan yang Semu :By Yayi Latifah

😦 KEHIDUPAN YANG SEMU😦

Malam ini beda sekali sama malam sebelumnya. Heuuhh Ya. Aku tegang karna besok aku sama teman-teman tampil dilomba dance antar sekolah. Apalagi rivalku banyak dari sekolah lain. Huh ! Ayolah tim ku pasti menang. Ya, karna kami sering banget juara dalam festival dance.Tapi itu tidak membuat ku menyombongkan diri . Aku merasa biasa-biasa saja sama semua prestasiku  itu. Malahan aku tegang  untuk lomba besok. Ting…Tong…Ting…Tong… Bel rumah ku bunyi . Bi Inah, pembantu dirumah ku bergegas membuka kan pintu. “Oalaahh Sekar, tuan sudah pulang”. Seru Bi Inah kepadaku yang lagi santai nonton tv. Diserukan begitu . Aku jadi senang gak karuan, ternyata papah ku sudah pulang dari Amerika. Papah masuk rumah dan mencium kening ku. Aku langsung memeluknya. “papah…Sekar kangen”. Ujar ku sambil memeluknya. “Iya sayank, papah juga kangen Sekar “. Senyumnya. “Eh tapi, mama mana …??”. Tanyaku heran sambil melepaskan pelukannya. :Hmm, mama gak bias pulang, lagi banyak meeting* penting”. Jawabnya. “ Hmm, yasudah”. Cemberutku. “Eeeh,, jangan sedih kan papa ada disini J “. Hiburnya. “Mmm.. Iya ya. Oh ya, papa, besok sekar ikut lomba dance antar sekolah”. Terangku. “Oh ya ?. Bagus donk, Good Luck ya “. Senyumnya. “Tapi, papa nonton Sekar besok kan ?”. Tanyaku hati-hati.  Hm ,apa mungkin papa nonton ?. papa kan orang super sibuk. Batin ku. “Hmm, gimana ya sayank. Papa besok harus ke australi. Ada Meeting penting yang harus papa hadirin”. Ungkapnya.  “ Yaaahh..  bentar aja pah. Papa lebih mentingin bisnisnya daripada sekar L “. Cemberutku.  “Hmm, papah gak bias sayank”. Tolaknya. Aku kesal.  Dan berlari masuk kamar. Ku hempaskan pintu kamar ku dan kubaringkan tubuh ku ke atas kasur.  Aku mendengar  papa memanggilku berulang kali. “Sekar,,Sekar,,Sekar”. Panggilnya. Aku tidak menyahut.  Aku kesal.  Aku menangis, kenapa orangtua ku tidak pernah menemaniku sebentar saja. Mereka sibuk dengan semua urusan bisnisnya masing-masing. Aku strezz. Aku seperti tidak punya orangtua didunia ini .Ya jelas saja. Mereka tidak pernah memerhatikan ku. Aku lelah, dan ku tertidur.

Paginya, aku bangun dan siap-siap pergi lomba dance. Tapi rumah sepi. Yang ada Cuma Bi Inah lagi nyiapin sarapan . “Bi, papa mana ?”. Tanyaku sambil duduk dimeja makan. “Loh, tuan kan sudah terbang ke australi habis solat subuh, memang Nak Sekar tidak tau ?”. Tanya nya heran pada ku. “Hmm,, Gak Tau “. Ujarku Kesal sambil berlalu. Di kamar, aku menangis. Kenapa sih aku harus  dilahirin jadi anak orang kaya tapi gak pernah ngerasain kasih sayang orang tua seutuhnya. Heuh, aku stress. Aku pergi mandi dan siap-siap dengan kostum dance ku. Lalu aku berangkat . “Eh non, sarapan dulu”. Tawar Bi Inah .”Gak ah, saya langsung berangkat aja”. Tolakku sambil tersenyum. Mobilku pun melaju kencang menuju SMA 1, sekolah ku. Disana sudah ramai oleh peserta lomba. Aku memarkirkan mobilku. Sisi, Reina, Cika, Raya, dan Fanya menyambutku. “Pagi Sekar”. Seru Mereka. Disambut begitu aku Cuman tersenyum . Mereka menggandengku menuju tempat peserta lomba. Kami duduk disana. “Eh, kita tampil urutan keberapa ?”. Tanyaku. “ Urutan ke-2”.Jawab Raya. “Oh, OK lah”. Senyumku. Mereka juga ikut tersenyum. Acara pun mulai dibuka. Sambutan-sambutan sudah selesai. Sekarang peserta pertama lagi tampil. . Aku memperhatikan gerakan dance mereka.  Hmm Cukup bagus. Batin ku. Dan sekarang kami yang tampil. Kami naik stage. Penonton sorak sorai. Ada yang tepuk tangan, ada yang menyuit panjang. Macam-macam lah. Disemangatin begitu. Kami tampil percaya diri dan hasilnya memukau. Puas ! itu rasa perasaan ku J.

Lomba selesai dan semua bubar.  Aku sendiri pulang kerumah. Perasaanku masih ingat papa sama  mama. Aku merenung sendiri. Kenapa mereka tidak pernah mengerti perasaanku.  Hatiku membatin.  Aku berharap tadi waktu tampil papa sama mama melihatnya.  Tapi ! heuh Ayolah itu tidak mungkin terjadi. Kesalku. Sampai Rumah, suasana masih sepi. Seperti rumah tidak berpenghuni. Gerutuku.  Aku duduk di sofa. Aku melihat-lihat sekeliling ruangan. Memory otak ku berputar ke 17 tahun yang lalu. Ketika aku masih kecil. Disana, di sofa ruang nonton.  Ada aku, papa dan mama. Kami bercanda bersama. Aku tertawa senang. Karena mereka memelukku. Aku terdiam. Dua butir air bening meleleh di kedua pipiku. “Papa..Mama.. “. Lirihku.  Aku menyaksikan kejadian 17 tahun yg lalu itu, aku merasa paling bahagia didunia karna papa dan mama menyayangiku. Tapi, sekarang semuanya berbalik aku seperti  sendiri hidup didunia ini. Sepi.  Sendiri. Kelam rasanya hari-hariku. Ku hempaskan tubuh ku ke sofa. Mata ku basah. Bi Inah heran  melihatku. “ Non ?. Non knpa?”. Tanya nya sambil memegang pundak ku.  Lamunan ku buyar. Cepat-cepat ku hapus air mataku.  “Eh, Bi…Bibi “. Jawab ku gagap. “Non knpa ?. Kok nangis ?”.  “Sa..Saya gpp”. Sahutku sambil berlalu masuk kamar.  Dikamar aku berbaring.  Kepalaku pusing. Badanku tiba-tiba panas menggigil. Keringat dingin ku bercucuran. Bi Inah masuk ke kamar ku, dia kaget melihatku seperti itu. “Astagfirullah. Non knpa ?”. Dia memelukku. Aku terdiam. Kehangatan itu ? Pelukan seorang Ibu ! Hangat sekali. Pipiku basah aku menangis. Aku ingin bicara namun rasanya mulut ku terkunci . Bi Inah jadi panik. Dia mengompres ku. Dia memberi ku obat. Sepanjang malam dia menjagaku. Mengapa saat aku sakit Bi Inah yang selalu ada untukku . Bukan papa/mama.  Mereka mungkin tidak tau aku lagi sakit. Aku juga tidak mau mereka tau. Mereka sudah tidak peduli lagi. Aku strezz. Aku berusaha melupakan mereka.  Sekarang aku lagi makan dan Bi Inah menyuapiku. Aku menatap matanya. Tatapan Itu !. Seperti tatapan mama waktu dia menyuapiku 17 tahun yang lalu. Oh tidak ! Lupakan Saja. Selesai makan  aku tidur nyenyak . Entah kenapa aku tidur senyenyak itu.

Paginya. Badan ku terasa segar. Walaupun pusing kepalaku  masih gak karuan. Aku teringat Papa’Mama. Aku kangen mereka.  Aku memasuki kamar mereka. Suasananya sepi. Tidak ada siapa-siapa. Aku duduk di atas tempat tidur. Aku meraih  selimut tidur mereka. Ku rangkul dank u sayank. Aku menciun aroma Papa dan Mama. Oh Damai sekali. Aku memejamkan mata dan memeluk selimut itu. Aku bangkit dan meraih foto yang ada di meja sebelah tempat tidur. Difoto itu ada aku, papa dan mama. Disitu aku kecil sekali. Mungkin masih Balita. Air mata ku tak dapat ku bendung .Aku menangis sambil menatap foto itu. Aku lelah. Foto itu jatuh dari genggamanku. Ups . Fotonya berantakan. Aku berusaha memperbaikinya. Tapi, saat aku meraih foto itu terselip kertas yang telah usang. Aku meraihnya. Keningku berkerut.  Apa ini ?. Batinku bertanya. Aku membaca perlahan…………… .  Aku kaget ! .. Tubuhku lemas lunglai. Seakan tidak percaya dengan apa yang ku baca. Kalian Tau ?. Kertas itu bertuliskan apa ?. ..       Ya Tuhan ! Aku bukan anak papa dan mama. Aku hanya anak angkat. Anak adopsi. Aku stress berat ,aku memukul diriku sendiri. Aku ingin berusaha sadar dari mimpi ini. Tapi ini tidak mimpi. Ini Nyata !. Yang lebih membuat dada ku sakit Ibu kandungku adalah Bi Inah. Pembantu dirumah ku. Nafasku Sesak, dada ku sakit. Aku kambuh lagi. Aku berusaha bangkit dan meraih kunci mobil. Ku lajukan gas mobilku sekencang-kencangnya. Pikiran ku buyar ! .Kepala ku pusing.  Aku tidak percaya akan hal ini. Aku berteriak histeris didalam mobil. Pikiran ku zonk. Mobil ku melaju tak terarah. Aku tidak tau kemana akan ku tuju. Kepala ku tambah sakit.  Aku tidak tahan. Pandangan ku buyar dan.. dan aku tidak ingat apa-apa lagi.

Aku sempat sadar tapi tidak benar-benar sadar. Yang aku tau aku lagi dirumah sakit. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku pingsan.  Kondisiku koma. Aku mengalami kecelakaan. AKu sudah tidak kuat lagi. Tubuh ku lemah. Batin ku tersiksa. Aku mengalami gegar otak, aku di operasi, kondisi ku kritis. Mungkin papa dan mama ada sekarang lagi menunggu ku. Entah lah aku tidak tau. Aku meragukan kedatangan mereka. Aku tidak kuat lagi. Aku tertidur. Dan tidak bangun, Ya ! Aku tidur untuk selama-lamanya.  Aku telah mati.  Dan tidak akan pernah bangun untuk melihat papa dan mama lagi .

By.Yayi

Tgl. 30/12/2011

2 Responses to Kehidupan yang Semu :By Yayi Latifah

  1. Opas says:

    Waaaah bagus tulisannya, kembangkan terus hobby nulisnya. Satu usul kenapa ngga dikirim ke salah satu majalah remaja pasti dimuat. .,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s